Permata Bunda

Pagi, permataku masih tertidur. Jam 6 pagi seharusnya dia sudah terbangun. Entah mengapa, engkau, Permataku, sejak di sini bersama Bunda dan Papa, engkau harus dibangunkan. Tidak lagi ada bangun pagi jam 4, saat orang-orang belum terbangun. Mungkin karena di Jawa sana, nenekmu terbangun jam 4, dulunya engkau terbangun jam 4 juga.

Di Jawa, banyak hal kamu, Permataku, lakukan sendiri. Mungkin karena Nenekmu mendorongmu untuk dapat melakukan pekerjaan sendiri. Di sini, Bunda dan Papa agak sibuk mengelola bisnis yang masih bergantung pada kehadiran kami, ditambah tenggat waktu yang terburu-buru, membuat kami jarang ada waktu menyertakanmu untuk dapat belajar dan bekerja sendiri.

Hanya tersisa waktu dan kesempatan sedikit sekali, kami, Bunda dan Papa sempat menyertakanmu untuk dapat belajar terkait bisnis yang membiayai kehidupanmu, Permataku, dan juga semua keluarga kita.

Maaf, terkadang pekerjaan membuat kami stress sementara Engkau ingin kami perhatikan, ketika Engkau merengek terus, membuat kami emosi dan memarahimu. Kami berharap Engkau mengerti situasinya di kemudian hari, Permata Bunda. Permata Papa.

SB